MATERI SAMPLING EKOLOGI KAWASAN KARST*)

(SUATU TINJAUAN KOLEKSI FAUNA GUA)

                                                                                         Ismawan Hariadi, S.Pd., M.Pd**)

MATERI LENGKAP .pdf  DOWNLOAD DISINI

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kaya akan biodiversity. Biodiversity Indonesia secara umum menempati urutan kedua setelah negara Brazil. Namun, dalam keanekaragaman mahluk hidup pada wilayah karst Indonesia merupakan negara yang paling kaya keanekaragaman hayati gua untuk kawasan tropis. Kawasan karst tropis Indonesia ini terbentang dari pulau Sumatra hingga Papua, dan semuanya memiliki peranan penting sebagai penyangga kehidupan tumbuhan, hewan maupun manusia. Tidak hanya itu saja, di dalam sebuah buku yang berjudul “Ecosystem of  the world : Subterannean Ecosystem”, mengungkapkan hanya dari satu sistem gua di Karst Maros bisa dijumpai beberapa jenis fauna yang jumlahnya melebihi yang ditemukan di Thailand maupun negara lainnya. Hal ini sungguh menakjubkan, bahwa kawasan karst di Indonesia yang terbentang dari pulau Sumatra hingga Papua masih banyak menyimpan kekayaan makrobiologi dan mikrobiologi  mungkin belum terungkap.

Kawasan karst juga merupakan kawasan yang sangat menarik untuk diekplorasi dikarenakan kawasan ini memiliki keunikan dan sensasi tersendiri bagi seseorang yang melakukannya. Alasan lain adalah fauna kawasan karst (gua), khususnya invertebrata memiliki kekhasan morfologi yang tidak ditemukan pada kawasan lainnya. Demikian pula dengan tingkat keendemikannya, kawasan karst memiliki tingkat endemisitas yang cukup tinggi. Contoh hewan endemik pada kawasan karst adalah Stenasellus javanicus, yaitu fauna sejenis udang-udangan gua yang sampai saat ini hanya ditemukan pada  genangan air yang terdapat kawasan karst gua cibinong, Cancrocaeca xenomorpha, sejenis kepiting gua yang buta hanya ditemukan di kawasan karst Maros, namun kerabat dekatnya diyakini sebagai marga baru, hanya dijumpai di Pulau Muna dan gua di Sangkulirang, Kalimantan Timur. Kepiting gua lain yang endemik, Sesarmoides jacobsoni, hanya ditemukan di Karst Gunung Sewu, selatan Jawa.

Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sudah terkenal dengan wisata alam pegunungan, yaitu gunung Rinjani di pulau Lombok dan gunung Tambora di pulau Sumbawa telah lama menjadi obyek penelitian ilmiah, baik ilmuwan yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga data-data  mengenai kedua gunung tersebut telah banyak referensinya. Tidak hanya itu, NTB memiliki garis pantai yang cukup panjang membentang dari ujung timur kabupaten Bima sampai ujung barat Kodya Mataram. Wilayah bentangan pantai yang cukup panjang tersebut, ternyata menyimpan potensi kawasan karst yang cukup banyak, walaupun data resmi belum ada, namun diperkirakan NTB memiliki kawasan karst terutama disepanjang  wilayah pantai selatan pulau Sumbawa sampai pulau Lombok. Miskin pengetahuan dan sedikitnya pengiat maupun ilmuwan setempat yang berminat terhadap kawasan karst menjadi faktor utama minimnya informasi mengenai keberadaan kawasan karst di NTB.

Akan tetapi kendala diatas tidak menyebabkan data mengenai kawasan karst di NTB tidak ada sama sekali. Dimotori oleh divisi Caving Grahapala Rinjani Universitas Mataram merintis pendataan keberadaan karst di wilayah NTB. Namun data yang di dapatkan sangat minim dikarenakan kegiatan ini masih bersifat petualangan dan tidak bersifat ilmiah, sehingga data yang diperoleh hanya berupa lokasi keberadaan kawasan serta dokumentasi-dokumentasi kegiatan.

Untuk menggiatkan kembali kegiatan mengenai penulusuran gua menuju ke arah yang lebih ilmiah maka diperlukan pengetahuan dan pamahaman yang cukup bagi penggiat penelusuran gua (Caver). Pengetahuan dan pemahaman tersebut dapat dibagi 2, yaitu :

  1. Pengetahuan dan pemahaman terhadap prosedur keamanan menelusuri gua, kemampuan rescue, kemampuan SRT (Single Rope Technic),  dan kode etik menelusuri gua. Hal ini diperlukan bagi caver yang memiliki tujuan untuk kepentingan petualangan.
  2. Pengetahuan dan pemahaman mengenai pemetaan gua, ekologi gua, investarisasi dan identifikasi flora dan fauna gua, metode sampling, lain sebagainya. Hal ini diperlukan jika penelusuran gua bertujuan untuk penelitian ilmiah

Di bawah ini penulis akan mencoba membahas salah satu pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang penelusur gua dalam berkegiatan ilmiah, yaitu metode sampling ekologi untuk kawasan gua. Ketidaklengkapan pembahasan dalam tulisan ini semata-mata disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pemahaman penulis miliki. Oleh karenanya penulis mohon maaf dan mohon kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi sempurnanya tulisan ini.

SAMPLING EKOLOGI

Dalam suatu penelitian tentunya kita memerlukan data dan informasi. Data dan informasi dapat berupa data atau informasi kualitatif maupun kuantitatif. Dalam penelitian ekologi pada umumnya akan dikumpulkan atau dikoleksi informasi yang bersifat kuantitatif tentang habitat, komunitas, atau populasi. Dalam mengumpulkan data ini suatu hal yang tidak mungkin jika kita mengumpulkan semua informasi atau data dari keseluruhan habitat, komunitas ataupun populasi. Oleh karena itu dibutuhkan metode sampling (cuplikan) yang meliputi teknik sampling dan ukuran sample yang diperlukan untuk menghasilkan gambaran yang sesungguhnya  atas populasi atau permasalahan yang sedang diteliti  sehingga dapat diambil langkah kebijakan atau tindakan dalam mengatasi masalah secara lebih tepat, artinya sample yang diambil dapat mengeneralisasi keseluruhan populasi.

TEKNIK SAMPLING

Sampel merupakan sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya dalam komunitas. Pengambilan sampel dilakukan karena beberapa hal, yaitu :

  1. dapat menghemat waktu dan biaya;
  2. untuk sumber daya yang terbatas, pengambilan sampel dapat memperluas cakupan studi
  3. apabila proses riset besifat destruktif, pengambilan sampel dapat menghemat produk
  4. apabila akses keseluruh populasi tidak dapat dilakukan pengambilan sampel adalah satu-satunya pilihan

Metode sampling banyak menggunakan teori probabilitas dan teori statistika, sehingga dapat menentukan suatu sample diperlukan tahapan sampling sebagai berikut:

  1. mendefinisikan populasi yang hendak diamati;
  2. menentukan erangka sampel, yakni kumpulan item atau peristiwa yang mungkin;
  3. menentukan metode sampling yang tepat;
  4. melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data);
  5. melakukan pengecekan  ulang proses sampling.

Setelah pemeriksaan kriteria dilakukan, kemudian dapat dipilih teknik pengambilan sampel yang diharapkan. Teknik pengambilan sampel yang umum digunakan dalam pengumpulan data bioekologi suber daya alam dapat dilakukan dengan beberapa model yang disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengambilan sampel secara acak (Random Sampling)

Metode ini adalah pengambilan sampel acak sederhana yang digunakan untuk memilih sampel dari poulasi dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap anggota populasi mempeunyai peluang yang sama besar untuk diambil sebagai sampel. Teknik acak dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

  1. Pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling), pengambilan sampel dilakukan dengan melakukan lotre terhadap semua populasi
  2. Pengambilan acak beraturan (ordinal sampling). Alam hal ini peneliti mengambil sampel dari nomor-nomor subjek dengan jaak sama, misalnya nomor dengan kelpatan 3, 5, 10, dan sebagainya.
  3. Pengambilan sampel acak dengan bilangan random, yaitu sebuah tabel bilangan yang sudah disusun dalam urutan dan sebaran tertentu
  4. Pengambilan sampel secara kelompok (Cluster Sampling)

Metode ini adalah pengambilan sampel acak secara sistematik dengan interval tertentu dari suatu kelompok sampel yang diurutkan.

  1. Pengambilan sampel bertingkat (Stratified Sampling)

Metode ini mengambil sampel secara acak terstratifikasi dengan memilih sampel dengan cara membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok yang homogen dimana subjek antara satu kelompok dengan kelompok lain tampak adanya strata atau tingkatan dan kemudian sampel diambil secara acak dari setiap strata.

  1. Pengambilan sampel yang bertujuan (Purposive Sampling)

Teknik pengambilan sampel yang digunakan apabila sampel yang akan diambil mempunyai pertimbangan tertentu. Misalnya berdasarkan tingkat kelahiran, jenis kelamin, umur, dan sebagainya.

  1. Pengambilan samling pada wilayah atau samping daerah (Area Sampling)

Teknik pengambilan sampel dengan mempertimbangkan wakil-wakil dari daerah geografis yang ada.

  1. Pengambilan sampel kembar (Double Sampling)

Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan jumlah sebanyak dua kali ukuran sampel yang dikehendak.

Untuk mempermudah penghitungan setiap sampel tumbuha atau hewan di dalam ekosistem, perlu dilakukan pekejaan yang sistematis  dengan menggunakan transek, ada tiga tipe dasar transek yang biasa digunakan  dalam pengambilan sampel, yaitu :

  1. Pengambilan sampel transek (Transect Line)

Tipe ini paling umum digunakan. Di dalam survei komunitas, transek garis digunakan sebagai titik acuan untuk pengambilan sampel. Transek garis pada umumnya merupakan garis yang memotong ke arah seberang batas komunitas tertentu yang akan diamati.

  1. Pengambilan sampel kuadrat (Quadrat Sampling)

Unit pengambilan sampel berbentuk segi empat yang diletakkan secara acak di dalam zona sensus. Zona sensus itu dapat dianggap sebagai papan pengecekan dan kuadrat yang dicari dapat ditentukan dengan membuat penomoran secara acak.

Kuadrat sampling digunakan untuk pengambilan sampel pada populasi berikut:

  1. vegetasi atau tumbuhan
  2. satwa dengan pergerakan lambat
  3. satwa yang hidup di dalam lubang, di atas bukit atau di dalam sarang
  4. biota bentik (di dasar perairan)
  5. fauna tanah
  6. Blok sampling (Block Sampling)

Dibuat apabila pada lokasi pengambilan sampel tersebut terdapat halangan berupa  demarkasi lahan  secara fisik seperti areal yang dibatasi sungai. Suatu sampel dihitung dengan memilih penempatan titik-titik secara acak pada zona sensus kemudian dihitung pada titik random blok tersebut.

Gambar Block Sampling (sumber : Ferianita (2004))

KEGIATAN SURVEI/EKSPLORASI  KEKAYAAN BIOTA

Kegiatan survei ataupun eksplorasi secara umum ditujukan untuk mendapatkan informasi kekayaan keanekaragaman yang paling besar dari variasi mikrohabitat yang paling banyak. Survei dan ekplorasi ini sangat dibutuhkan khususnya pada daerah-daerah kawasan karst yang belum banyak diteliti khususnya keanekaragaman biotanya. Sehingga hasil dari survei ini dapat dijadikan data dasar untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

Dari hasil survei secara umum akan dihasilkan sebuah daftar spesies dengan catatan habitat, informasi populasi dihabitat, sebaran lokal maupun regional, status suatu takson (endemik/kosmopolitan), serta status adaptasi suatu takson (troglofit/troglo­fil/troglosen). Informasi-informasi ini sangat penting untuk pertimbangan konservasi kawasan karst.

Salah satu kegiatan survei/eksplorasi ini adalah kegiatan mengkoleksi flora maupun fauna yang ada di kawasan karst. Agar kegiatan koleksi yang dilakukan tidak sia-sia maka diperlukan pengetahuan koleksi yang baik dan benar. Di bawah ini akan dijelaskan  beberapa teknik koleksi yang umum digunakan khususnya dalam mengkoleksi fauna gua. Namun sebelum kita mengkoleksi diperlukan suatu standarisasi koleksi dengan maksud agar data yang kita peroleh dapat diperbandingkan  dengan lokasi gua/ kawasan karst lain. Standarisasi koleksi biota gua dapat dilakukan dengan beberapa cara :

  1. Standarisasi koleksi langsung, yaitu pencuplikan sampel dilakukan dengan jeda waktu yang sama, atau pada permukaan gua yang sama, pada jumlah genangan air yang sama, atau pada jumlah batu yang sama.
  2. Standarisasi pitfall trap, yaitu mencuplik sampel dengan botol yang sama pengawet yang sama, lama waktu yang sama yang bervariasi 1 – 15 hari
  3. Standarisasi Ekstraksi Berlese, yaitu mencuplik sampel dengan volume yang sama.

TEKNIK KOLEKSI

Beberapa cara koleksi dapat diterapkan untuk pengumpulan fauna gua. Fauna akuatik dikoleksi secara langsung dengan menggunakan jaring atau saringan kecil, kuas dan atau sendok teh plastik. Sedangkan fauna teresteral dikoleksi dengan beberapa cara antara lain menggunakan perangkap sumuran (pitfall trap), pengambilan contoh tanah, serasah dan guano, koleksi langsung (hand collecting) dengan kuas, pinset dan aspirator.

  1. 1.      Koleksi fauna akuatik.

Fauna akuatik dapat ditemukan di kolam-kolam kecil yang permanen maupun yang temporal dan juga di sungai-sungai bawah tanah. Namun untuk mendapatkan fauna akuatik yang menarik, spesifik gua sangat disarankan untuk menghindari sungai utama. Di dalam sungai utama kan ditemukan lebih banyak fauna dari luar yang terbawa banjir masuk ke dalam gua. Fauna yang unik, khas gua biasanya menghuni kolam-kolam dari air perkolasi. Oleh karena itu, dalam melakukan penelitian fauna gua sangat disarankan untuk lebih mengutamakan pengamatan pada bagian atas lorong gua yang jauh dari sungai utama. Pada bagian ini akan lebih banyak ditemukan fauna yang telah beradaptasi terhadap lingkungan gua. Teknik yang digunakan untuk mengkoleksi fauna aquatik biasa menggunakan teknik koleksi langsung  dengan menggunakan jaring atau saringan kecil, kuas dan atau sendok teh plastik, pinset, pipet. Hasil koleksi kemudian dapat ditampung dalam botol yang berisi alkohol 70%-90% kemudian diidentifikasi di laboratorium.

  1. 2.      Koleksi fauna teresterial

Fauna teresterial dapat dikoleksi dengan teknik :

  1. Perangkap sumuran (pitfall trap)

Metode ini sangat umum digunakan untuk penelitian fauna tanah, namun dapat juga untuk mempelajari fauna gua dengan membandingkan antar gua atau antar zona dalam satu gua. Perangkap sumuran hanya dapat menangkap fauna yang aktif  dipermukaan  lantai gua/tanah. Sebagai alat penangkapnya dapat digunakan berbagai tipe botol dari yang berukuran kecil sampai yang besar tergantung binatang yang dituju.Botol berdiameter kecil digunakan untuk mengumpulkan fauna yang berukuran kecil seperti Collembola dan Coleoptera Namun yang lazim digunakan adalah geas plastik dengan diameter atas 7 cm, diameter bawah 5 cm dan tinggi15 cm. Gelas ditanam ke dalam lantai gua dengan permukaan gelas rata dengan permukaan tanah, kemudian diisi alkohol 70% atau 95% sebanyak sepertiga bagian dan ditambahkan sedikit deterjen. Agar lebh efektif dan sesuai perilaku fauna gua maka perangkap sumuran diletakkan di dekat dinding gua. Di dalam setiap gua dapat dipasang beberapa perangkap sumuran tergantung tujuan penelitian namun biasanya pada setiap zona dapat dipasang 5 perangkap atau lebih, tergantung pada kondisi gua

  1. Pengambilan contoh tanah dan atau guano

Pengambilan contoh tanah, serasah dan guano dari dalam gua dimaksudkan un­tuk mempelajari fauna yang hi­dup di dalam tanah atau guano. Contoh tanah diambil dengan sendok tanah se­banyak 1-2 liter (atau seperlunya) kemudian dima­suk­­kan ke dalam kantung blacu. Kedalaman pengambilan contoh tanah bervariasi tergantung penelitian namun umumnya dengan kedalaman 5 -10 cm, sedangkan guano yang dikumpulkan adalah guano yang sudah megalami proses perombakan/fermentasi. Disarankan agar contoh tanah sesegera mungkin diproses di dalam corong Berlese (bisa juga dibuat sendiri/dimodifikasi).

  1. 3.      Koleksi Langsung

Koleksi dapat  dilakukan langsung dengan tangan, kuas atau pinset. Binatang yang berkuran mini disarankan ditangkap dengan menggunakan kuas untuk menghindari kerusakan morfologi yang diperlukan dalam dentifikasiselanjutnya. Sedangkan pinset dapat diunakan untuk fauna (Arthropoda) ukuran besar. Beberapa fauna dapat ditangkap dengan tangan. Dalam penangkapan langsung dengan tangan kadang diperlukan sarung tangan untuk menghindari bisa dari gigitan atau sengatannya. Fauna yang dikoleksi dimasukkan ke dalam botol koleksi yang berisi alkohol sebagai pengawet. Koleksi secara langsung  lebih efektif untuk fauna yang mempunyai populasi sangat kecil, hidup direlng yang sulit dijangkau, dan sangat jarang dapat terkoleksi dengan perangkap sumuran. Karena beberapa kelompok troglobit tidak dapat terkoleksi dengan perangkap sumuran atau contoh tanah.

  1. 4.      Aspirator

Aspirator digunakan untuk meng­­koleksi fauna yang berukuran sang­at kecil dan sulit dikoleksi deng­an pinset aupun kuas. Alat ini ter­buat dari ta­bung/bo­tol plas­tik atau gelas dengan dua batang pipa yang terpasang pada sumbat karet. Sangat tidak disarankan menggunakan aspirator di dalam gua-gua yang berguano karena berbahaya sekali. Di dalam guano terdapat banyak bakteri maupun spora-sporanya yang dapat menimbulkan penyakit. Aspirator yang menggunakan tenaga isap dengan motor dapat digunakan di guano.

  1. 5.      Killing

Killing adalah istilah yang digunakan untuk membunuh fauna gua yang kita koleksi. Dalam membunuh fauna kitapun harus memiliki etika agar fauna yang kita bunuh tidak merasa tersakiti atau bagian tertentu dapat rusak dikarenakan teknik membunuh yang tidak dianjurkan. Ada beberapa teknik dalam membunuh fauna gua terutama fauna berupa arthropoda atau insekta, yaitu :

  1. menggunakan larutan alkohol, yaitu dengan cara fauna yang dikoleksi dimasukkan langsung ke dalam alkohol. Cara ini yang paling sering digunakan karena selain membunuh koleksi juga sekaligus mengawetkan koleksi.
  2. menggunakan botol pembunuh (killing jar). Fauna koleksi ditempat dalam sebuah botol kaca/botol plastik transparan atau toples kecil yang didalamnya diletakan kapas yang telah dibasahi dengan kloroform secukupnya
  3. koleksi dibekukan (freezer). Koleksi ditempatkan dalam dalam botol kaca kecil kemudian dimasukkan kedalam lemari es (kulkas/freezer) selama 24 jam.
  1. 6.      Labeling

Labeling bertujuan memberikan informasi terhadap fauna yang kita koleksi. Labeling dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara basah dan cara kering. Cara basah biasanya label ditempatkan di dalam suatu wadah  bersamaan dengan fauna yang dikoleksi. Cara basah biasanya menggunakan kertas/plastik dan tinta anti luntur. Sedangkan cara kering menggunakan kertas label yang ditempel pada permukaan luar wadah koleksi atau bisa juga dengan menggunakan pinning (label di tusuk jarum pentul) yang biasa digunakan untuk koleksi serangga. Label pada umumnya berisi informasi tentang : lokasi koleksi, meliputi : negara/provinsi, tempat koleksi diambil (specific location); posisi lokasi koleksi (latitude berupa koordinat) dapat ditentukan dengan GPS dan ketinggian tempat (longitude) ; tanggal, bulan dan tahun koleksi;  identitas dalam tingkatan taksonomi; nama kolektor.

CONTOH :

INDONESIA, SUMBAWA BARAT

GUA  SETELUK

112o 00’ S 7o 04’ E

20m 12.viii.2011

BIOTA GUA

Gua merupakan sebuah habitat bagi hewan-hewan baik vertebrata maupun invertebrata. Biota gua mengalami adaptasi pada lingkungan gua. Beberapa ciri adaptasi ditunjukkan dengan perubahan morfologi biota gua. Proses perubahan morfologi bota gua dikenal dengan troglomorfi. Beberapa ciri troglomorfi ditunjukkan dengan :

  1. mereduksi atau bahkan hilangnya  organ penglihatan yang digantikan dengan perkembangan organ perasa seperti memanjangnya antena atau organ lain seperti sepasang kaki paling depan pada Amblypygi.

Gambar. Amblypygi yang memiliki kaki paling depan yang panjang sebagai adap­tasi pada lingkungan gua (sumber : http//en. wiki­­pedia.org/wiki/Amblypygi)

  1. hilangnya pigmen tubuh sehingga tubuh berwarna putih meskpun tidak semua yang berwarna putih biota gua atau sebaliknya.

Pembagian biota gua berdasarkan tingkat adaptasinya :

  1. Trogloxene : merupakan kelompok fauna gua yang menggunakan gua sebagai tempat tinggal dan secara periodik keluar gua untuk mencari pakan, tidak hanya tergantung pada lingkngan gua. Contonya : kelelawar.
  2. Troglophil : merupakan kelompok fauna gua yang seluruh daur hidupnya dihabiskan di dalam gua namun tidak sepenuhnya tergantung pada lingkungan gua. Kelompok ini beberapa masih bisa hidup dan ditemukan di luar gua. Contohnya : Amblypygi dan Uropygi.
  3. Troglobites : merupakan kelompok fauna gua yang seluruh daur hidupnya tergantung pada lingkungan gua dan hidup sangat tergantung pada lingkungan gua. Kelompok ini sudah menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi pada lingkungan gua yang dicirikan dengan mereduksinya organ penglihatan, pemanjangan organ perasa (antena) dan depigmentasi.

PENUTUP

Untuk melakukan koleksi biota gua yang perlu diketahui dan dipahami adalah keadaan atau kondisi ekosistem gua. Sehingga setiap metode koleksi yang diterapkan tidak akan berpengaruh besar terhadap ekosistem gua. Karena bagaimanapun juga kleksi sekecil apapun pada biota gua pasti akan menggangu ekosistem gua tersebut. Seperti kita ketahui ekosistem gua merupakan suatu ekosistem yang unik dan rentan terhadap gangguan. Sehubungan dengan hal tersebut para kolektor dituntut untuk leih berhati-hati dan bijaksana dalam melakukan koleksi di dalam gua dengan cara menekan seminimal mungkin gangguan dan koleksi yang berlebihan (overcollecting). Selamat bereksplorasi.

*)Disampaikan pada persiapan “Eksplorasi Gua dan Kawasan Karst” yang diadakan oleh GRAHAPALA RINJANI Universitas Mataram tanggal 18 s/d 24 Sepetember 2011 di Kabupaten Sumbawa Barat NTB

**) Staf pengajar di SMAN 1 Lingsar Lombok Barat dan Anggota Grahapala Rinjani Unram tahun 1994

Referensi

Hariyanto, S., Irawan, B., Soedarti, T. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Airlangga Iniversity Press.  Surabaya

Ferianita, M 2006. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta

Rahmadi, C. 2004. Koleksi dan Pengenalan Biota Gua. Makalah Seminar  Sehari : ”Biospleologi dan Peranannya dalam Konservasi Karst. Matalabiogama”. UGM Yogyakarta.

Rahmadi, C. 2007. Karst Gudanya Fauna Gua. Online. http://www.caver nicoles.files.wordpress.com/2007/11/karstgudangnyafaunagua.pdf

About wantemashariadi

saya adalah seorang yang selalu berpikir simple namun mempunyai visi ke depan, dan apa adanya titik

Posted on 26 Agustus 2012, in Beberoq. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: